Tuesday, May 31, 2005

Danarto:
Sebaiknya Umat Islam Bereksperiman

Jumat, 13 Mei 2005, saat azan maghrib belum lama usai. Di ruang diskusi di toko buku QB World Book baru hadir beberapa orang. Diskusi buku memang belum dimulai. Tapi Danarto sudah datang. Kepada syir’ah, Danarto memang janji bertemu di acara itu. Dia tampak asyik menelilingi rak-demi-rak buku. “Saya barusan diwawancari oleh wartawan dari daerah,” ujar Danarto kepada Banani Bahrul-Hassan sambil melintasi rak buku menuju rak yang lain. Sesekali tangannya menyambar sebuah buku dan meniliknya. Danarto sempat menunjuk ke sebuah buku berjudul Abdacadabra.

Abracadabra adalah versi Inggris dari buku kumpulan cerpen Godlob, diterjemahkan oleh pengamat sastra Indonesia asal Australia, Harry Aveling.

Malam itu Danarto mengenakan topi hitam. Baju koko berwarna putih dengan tiga buah pena berjejer miring terselip di antara dua kancing. Bagian khas yang lain dari Danarto adalah suara paraunya. Danarto, dikenal sebagai seorang sastrawan dengan karya-karya religius. Dia juga sosok multi profesi. Karena selain menulis cerpen dan novel, Danarto juga pernah menyutradarai teater, melukis, menyair, dan menjadi penata artistik.

Beberapa cerpen Danarto sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Kumpulan cerpen, Adam Ma'rifat, memenangi Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Tentang cerpen-cerpen Danarto, Y.B. Mangunwijaya menulis, “Cerpen-cerpen Danarto adalah parabel- parabel religius, cerita-cerita kiasan kaum kebatinan, yang luar biasa dinamikanya dan daya imajinasinya. Tradisional, tetapi sekaligus kontemporer.” Kiprahnya di dunia seni memang sudah mendarah-daging. Bekas anggota inti Sanggarbambu ini pernah menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta selama 11 tahun, dan wartawan majalah Zaman, 6 tahun. Pada 1983, ia menunaikan ibadat haji, dan menghasilkan sebuah laporan perjalanan yang kemudian diterbitkan PT Pustaka Grafitipers, Jakarta, Orang Jawa Naik Haji.
Jauh sebelum Danarto naik haji, dia punya pengalaman keagamaan yang unik: shalat dalam bahasa Jawa. Padahal usianya saat itu sudah 27 tahun. Bahkan sampai sekarang, Danarto mengaku tak bisa mengaji. Dalam panjat doa dia kerap menggunakan bahasa Jawa. Baginya bahasa Jawa memiliki rasa bahasa yang tak bisa ditandingi oleh bahasa lain. “Karena saya orang Jawa tulen,” ujarnya.

Setelah diskusi usai, sekitar pukul sembilan malam, Syir’ah berbincang dengan Danarto di lantai dua QB World Book, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Berikut ini perbincangannya.

Anda pernah shalat dengan bahasa Jawa. Bahasa yang dinilai ilegal dalam pandangan sebagian ulama dalam melaksanakan ritual shalat. Bisa Anda bercerita...
Dahulu ketika shalat dengan bahasa Jawa saya merasa kekurangan rasa bahasa. Saya asing terhadap bahasa selain Jawa, entah itu Arab, Inggris, bahkan bahasa Indonesia. Saya shalat dengan bahasa Jawa itu kira-kira satu minggu. Setelah itu saya memilih shalat yang standar, dengan bahasa Arab. Sampai sekarang pun kalau membaca sami’allâhu liman hamidah saya mengingat terjemahannya sama dengan gajah Hamidah. Sami’allâh itu sama; liman itu gajah (bahasa Jawa halus), midah itu nama cewek. Jadi terjemahannya kira-kira sama dengan gajah Hamidah. Nah, hal seperti itu tidak saya persoalkan lagi. Itulah kebesaran agama wahyu yang seharusnya saya mendengar dan patuh.

Apa komentar Anda ihwal shalat dua bahasa yang dilakoni Muhammad Yusman Roy?
Apa yang dilakukan oleh kiai Roy menurut saya kontra produktif. Meskipun ulama juga tak perlu meributkan. Mestinya diikuti dulu sampai seberapa jauh kiai Roy ini. Jangan ada komentar-komentar, tapi didekati. Sehingga ketulusan hati akan muncul dengan lebih baik. Tapi memang kebiasaan kita selalu reaktif, tidak dengan pendekatan kasih sayang. Ada sebuah kisah tentang sikap Rasulullah saat beberapa sahabat hendak sweeping terhadap kitab-kitab agama lain. Rasulullah bilang jangan itu kitab wahyu. Jadi di sini saya kira menengok kepada sejarah apa yang pernah dilakukan oleh junjungan kita.

Apa perbedaan antara shalat Anda dahulu kala dengan Yusman Roy?
Saya melakukan itu hanya untuk diri sendiri. Sedangkan kiai Roy dengan para jamaah.

Bagaimana memahami orang yang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap ritual?
Saya percaya ada ketulusan di situ. Tapi kontra produktif dan bertele-tele.

Saat Anda shalat dengan bahasa Jawa, merasakan sentuhan kebahasaan yang berbeda ketimbang dengan bahasa Arab?
Saya memang betul-betul Jawa. Saya yang cuma mengenal rasa bahasa Jawa. Terkadang saya pun aneh dengan bahasa Indonesia. Pemahaman saya terhadap bahasa Jawa itu merasuk, sehingga mengetahui keindahan dari bahasa Jawa. Misal, sebelum kita membaca Al-Fatihah, ‘Duh, Gusti Allah mugi paduka nebihaken kaulo saking dosa, kados anggen paduko nebihaken antawis mlethek lan suruping suryo. Itu indah sekali. Artinya, ya Allah, semoga Engkau menjauhkan saya dari dosa, sebagaimana Engkau menjauhkan antara terbit dan tenggelamnya matahari.

Doa dalam versi Arabnya bagaimana...
(Sesaat berupaya mengingat-ingat)
O ya, allahumma ba’id bainî wa baina khothôyâyâ kamâ ba’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allhumma naqqini min khothoyaya kama yunaqqa al-tsaubu al-tsaub-l-abyadh min al-danasi. Allhumma-g-silni min khothoyaya bi-l-ma, wa-l-tsalj, wa-l-barod. (Ya Allah, jauhkanlah jarak antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah dosa-dosaku dengan air, es dan embun).

Lebih merasa konek dengan Tuhan saat dengan bahasa yang mana?
Akhirnya saya menyadari bahwa Tuhan memilih bahasa Arab. Alasannya pertama, ini kan wahyu dalam bahasa Arab, Jadi saya menerima dengan ikhlas. Kedua, mungkin Tuhan akan tersenyum ini orang kok bahasa Arabnya pletat-pletot tapi rajin amat shalat (tertawa). Saya percaya di Jawa punya banyak Nabi. Menurut Annemarie Schimel, Nabi itu berjumlah 24.000 dan Rasul 330. Dan di mana-mana sebetulnya ada Nabi. Di Jawa ada nabi yang bernama Sajjari, dia seorang nabi biasa yang tidak membawa kitab suci. Dia itu sulit dibuktikan, tapi dia ada dalam dunia sufi.

Apakah yang dilakukan Yusman Roy itu bertentangan dengan norma agama?
Hemat saya yang penting shalatnya. Ribuan umat Islam diketahuk tidak shalat, atau shalatnya bolong-bolong. Sebaiknya kita tidak reaktif terhadap kemungkinan-kemungkinan berbeda dalam melaksanakan ritual shalat.

Di masjidil haram, para imam tidak membaca basmalah, tapi langsung membaca al-hamdulillah dan seterusnya. Ini menjadi olok-olok jemaah Indonesia, karena tidak menyebut basmalah itulah bangsa Arab selalu kalah dalam perang melawan Israel. Saya punya pengalaman saat di Masjidil haram, ada yang cara bersedekapnya berbeda: kedua belah tangan berada di dada, atau berada di pusar, atau juga di samping kiri seolah-oleh memegangi pedang yang terselempang di kirinya.

Bukankah itu perbedaan yang prinsipil, Yang pantas diperdebatkan? Tatacara sementara umat Islam kita banyak juga yang berbeda-beda. Misalnya, kita sering melihat seorang jemaah yang selalu kiblatnya bertumbukan dengan kepala kita karena kiblat dia menceng sekali dg kiblat kita. Diberi tahu bahwa masjid itu sendiri kiblatnya benar, dia tetap ngotot.

Apa tafsiran Anda terhadap hadis Nabi ‘shalatlah seperti aku shalat’?
Secara substansial itu seperti Nabi. Dalam arti kata kekhusyukan dan ketulusan. Seorang keluarga eskimo yang shalat itu bisa saja duduk karena kalau dia berdiri nyundul iglo. Jadi bisa saja warga eskimo itu shalat sambil duduk, karena atap rumahnya rendah.

Roy berdosa lantaran ulahnya itu?
Sebaiknya umat Islam bereksperimen. Jika eksperimentasi itu salah, nilainya satu. Jika bener nilainya dua. Jadi eksperimentasi itu menuju jalan tol yang lempang ke arah pembaharuan. Apalagi kita sudah hidup di milenium ke tiga.

Apa komentar Anda tentang sikap Majelis Ulama Indonesia terhadap Yusman Roy?
Kita meributkan hal-hal yang tidak perlu. Para ulama itu mestinya membuka warung murah untuk tukang becak, petani. Itu lebih berguna dari pada ribut-ribut soal shalat dua bahasa, soal logo kaset. Karena sudah mentok dan stagnan.

Apa yang menyebabkan itu...
Karena tidak terbuka dalam menafsir ayat suci. Misalnya ayat Aku lebih dekat dari urat lehermu. Tak pernah dibahas. Dianggap berbahaya. Saya ingit sebuah puisi Abdul Hadi WM, ada kata ‘Tuhan aku begitu dekat’. Lalu ada ulama yang geleng-geleng kepala. Dulu di TIM, sekian tahun yg lalu. Loh memangnya berdosa dekat dengan Tuhan, memangnya berdosa menyatu dengan Tuhan. Tak ada ayat atau hadis yang mengatakan berdosa dekat atau menyatu dengan Tuhan. Justru ada hadis yang mengatakan jika Islam itu utuh maka tangan Tuhan menjadi tanganmu, kaki Tuhan menjadi kakimu.

Ulama kita terlalu protektif?
Merasa paling baik menjaga umat tapi kecolongan. Umat mentok mereka tidak tahu. Mestinya umat didorong. Seperti kata slogan pendidikan kita, Tutwuri Handayani, membimbing dari belakang.


Pemahaman Anda dalam sufisme dikenal cukup baik. Itu dibuktikan dengan karya-karya yang mengandung nilai sufisme...
Sebenarnya saya itu sudah belajar mistik sejak balita. Saya masih ingat diajak keluar oleh ayah saya, malam-malam, ditunjukkan ke arah sebuah pohon ada hitam yang sebesar apa bergentayangan. Ketika itu saya belum sekolah. Saya merasa habitat saya itu di mistik. Sebetulnya saya sangat ingin menjadi sutradara film. Dan tinggal selangkah namun tidak berhasil. Saya pernah membantu pembuatan layar lebar sebanyak empat kali. Tercegah terus. Tapi sebaliknya ketika saya bicara mistik sangat mudah. Dan dapat diterima. Ini ada pesan yang tersembunyi, inilah habitat saya.

Pada tahun 1967, di Bandung, saya sebenarnya pernah mendengar bahwa ketika takbir itu sudah terbuka tak ada kekuatan yang menghalangi. Sehingga ada sufi yang terbang dari gunung ke gunung, terlempar ke genting, berguling-guling di tanah. Saat itu, bagi saya wantu yang amat genting sekali. Dalam pikiran saya, jangan-jangan saya terbang atau berguling-guling di jalanan. Setelah tersadar saya melihat, loh kok ada binatang yang Tuhan, pohon yang Tuhan, sopir yang Tuhan. Berarti bukan seperti yang saya bayangkan dalam cerita tadi. Saya mendapatkan yang berbeda.

Apa yang Anda rasakan?
Akhirnya semakin mantap wahdatul wujud, semuanya wajah Tuhan.

Apakah pengalaman seperti itu dapat dijabarkan secara rasional?
Sulit. Saat saya mengalami wajah-wajah Tuhan itu, seorang mahasiswa menulis kripsi dan memasukkan kata ‘binatang yang Tuhan’ sehingga menimbulkan konflik. Mestinya yang itu tidak usah disebut. Di sinilah saya memahami oh ini tidak boleh diceritakan. Biar saya bawa ke liang kubur. Tapi saya menilai, zamannya sudah berbeda. Dan saya merasa tidak hanya saya saja yang mengalami seperti ini, orang lain juga akan mengalami. Artinya tidak berbohong hati ini ketika merasakan Al-hallaj, Rumi, Ibn Arami, Abu Yazin Al-Bustami. Artinya setelah tahun 1967 itu, oh ini ternyata yang dicari.

Bisakah konsepsi sufisme dikaitkan dengan kejadian kontemporer?
Pernah majalah Newsweek membuat laporan utama bahwa Tuhan itu bertahta di otak manusia. Itu cocok dengan ayat, aku lebih dekat dari urat lehermu. Jadi ini klop. Lalu tentang klonik yang di tentang oleh Bill Clinton dan mendiang Paus Yohannes Paulus II. Padahal itu sudah ada sejak zaman dahulu kala, ketika Allah mencabut tulang iga Adam untuk menjadikan Hawa. Lalu tentang para sufi yang menyatu dg Tuhan, kata Hallaj, dalam jubah saya ini tidak ada yang lain kecuali Allah. Lalu Abu Yazid Al-Bustami, Akulah Allah alangkah mahasucinya aku. Sebenarnya, sejak jauh hari, penyatuan Tuhan dg manusia itu serius, yang mengilhami filosof Eropa, seperti Nietze, Tuhan telah mati. Sebenarnya dia mengakui Tuhan itu ada.

Apa yang semestinya menjadi sikap kita saat saat terjadi bala bencana?
Dunia ini memang tempat eksperimen Tuhan. Jadi kita manusia barang ciptaan Tuhan. Sederajat dengan binatang, tumbuh-tumbahan, alat-benda, apakah itu udara, tanah, api, air, atau pun zat. Tuhan sendiri kita namai zat yang maha suci. Jangan bereaksi, itu akan mempersulit diri sendiri. Seperti komputer yang sudah diprogram. Apalagi dalam Islam ada takdir, sebagai mutiara dalam agama Islam. Tuhan mengatakan, gue suka-suka gue.

Muslim masih berkutat dalam simbol-simbol sehingga yang muncul itu reaksi bukan ilmu pengetahun. Saat Nietze berkata Tuhan telah mati, itu mestinya diterima sebagai ilmu pengetahun bukan diterima sebagai simbol lalu dengan mudah mengatakan dia murtad.

Terjadi perbedaan radikal dalam diri Anda?
Inilah yang disebut Islam kaffah, Islam yang menyeluruh. Apalagi kalau sudah menginjak sufisme, cara kita omong, berpakaian, makan, wudlu, shalat, menyapa orang itu harus menyatu karena setiap langkah bisa mengurangi kadar iman. Begitu salah kadarnya turun, begitu baik kadarnya naik. Inilah yang menyebabkan para sufi malas bergaul. Untuk mempertahankan kadarnya. Sehingga ada seorang sufi yang shalat terus, karena dia enggan lepas dengan Tuhan. Sehingga ketika diundang raja tidak mau, malah mengikat tubuhnya di tiang. Teriak tolong...tolong saya diundang makan malam raja...tolong.... Seperti itu.

Paham seperti itu masih relevan di era sekarang. Adakah kontribusi bagi realitas?
Kontribusinya besar. Bahwa jalankanlah agamamu secara utuh. Laksana kita melangkah di tempat licin kita terpeleset. Jadi oleh kita sendiri dirasakan. Dan dalam masyarakat modern paham seperti itu bisa tumbuh dan berkembang. Jadi sangat berguna.

Nama :DanartoLahir :Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940Agama :IslamPendidikan :-SD, Sragen (1954)-SMP, Sragen (1958) -SMA, Solo (1958) -Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1958-1961) Karir :-Anggota Grup Sanggar Bambu (1959-1964) -Karyawan Media Komunikasi, Taman Ismail Marzuki (1968-1974) -Pengajar Institut Kesenian Jakarta (1973-1984) -Redaktur Majalah Zaman (1979-1985)
Publikasi:
Kumpulan Cerpen
-Godlob, 1975 -Adam Ma'rifat, 1982
-Berhala, 1987
-Gergasi, 1993
Novel
-Asmaraloka
Buku Catatan Harian
-Orang Jawa Naik Haji, 1983
Esai
-Gerak-Gerik Allah, 1996
-Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu, 1996